Life Is a Gift
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Ketika Perempuan Sedang Terluka
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Disaat Kusakit Tuhanlah Yang Menyembuhkanku
Sebulan yang lalu, Tuhan mengingatkanku bahwa sehat adalah barang termahal dalam kehidupan ini. Maka, tak ada satu pun harta yang patut kita banggakan selain kekayaan sehat; sehat raga, sehat jiwa, sehat akal, sehat harta. Kewajiban kita hanyalah menjaganya, memeliharanya. Tapi, kadang kita terlanjur menyepelekannya, dan bahkan mengabaikannya.
Ketika dokter menyimpulkan bahwa penyakitku adalah infeksi lambung, saya tidak heran, juga tidak kaget. Sejak kecil, saya sudah akrab dengan penyakit tifus, meski dengan stadium rendah. Maka "kamu harus istirahat total, tidak boleh makan yang kasar", saran dokter. Dan saya merasa Tuhan telah mengembalikanku ke masa kecil dulu.
Saya teramat sadar, sadar sesadar-sadarnya, apa yang saya rasakan saat itu adalah buah dari apa yang saya lakukan sebelumnya. Saya kurang mawas diri, kurang perhatian dengan waktu; bahwa selama kita berada di dunia, segalanya tetap memiliki BATAS. Ada jeda yang harus kita indahkan. Ada nuansa yang harus kita rasakan. Berlebihan, dalam hal apapun tetaplah tidak dianjurkan.
Maka ketika saya sakit, Tuhanlah yang menyembuhkannya. "Wa idza maridhtu, fa huwa yasyfiin", kata Nabi Ibrahim as dalam Qur'an. Ya, sakit adalah keniscayaan hidup. Tak ada sehat jika tak ada sakit. Tak ada kaya jika tak ada miskin. Di sinilah barangkali, konsep binnary oposition-nya Ferdinand de Saussure, filsuf Strukturalis itu memiliki titik pijak relevansinya. Dan karenanya, tak ada yang perlu disesalkan dari "rasa sakit", kecuali jika kita tak mampu mengambil ibroh dan hikmah darinya.
Bagaimana pun kita semua maklum, bahwa kadang kesalahan selalu kita ulang-ulang. Kita sering kali lupa untuk belajar pada kesalahan. Semoga Tuhan selalu melindungi kita. Amin...
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Elegi Sepotong Jiwa
Malam makin dingin. Menggigil. Angina berkesiur rendah, merinaikan riak-riak hati. Kau tahu, Ry, di lelembah hati paling curam, aku masih memendam sejumput harap. Ah, tidak. Tidak. Harapan tiu masih terlampau jauh. Jauh dari alunan mimpi indah. Derai angin yang sejuk terlampau rentan untuk keurasakan. Kau tahu, apa yang membuatku meringis, Ry?
Jangan. Jangan kau tanyaka tentang itu, Ry. Bukan karena kau selalu bergelut dengan kebisuan, bukan karena kau yang terlalu jujur. Bukan. Bukan karena itu, ry. Tapi karena aku tak yakin kau mampu membendung air matamu. Karena aku tak yakin semilir akan mampu berbisik pada helai dedaunan. Karena aku tahu hati tak pernah mati, dan angin takkan pernah berhenti. Dalam keheningan yang sengaja ku cipta, adakah yang patut dihargai dari sebait air mata?
Ry, pada saatnya nanti kau pun akan tahu apa yang tak pernah ku pugnkiri dalam hidupku, apa yang tak pernah kuluakan dalam mimpiku, apa yang paling kusesali dalam perjalananku. Mencintaninya, Ry. Ya, mencintainya. Mencintainya adalah keindahan sekaligud teramat menyakitkan. Sesuatu yang paradoks, bukan? Dan aku harus sesalkan mimpiku, sesalkan diriku. Sesuatu yang teramat gila, bukan?
Betapa dungunya aku. Ketika orang yang kusayangi mengharapkanku, kau tahu, apa yang kemudian kulakukan? Menghindarinya, Ry. Ya, aku menjauhinya. Aku berusaha membencinya. Sesuatu yang amat menyakitkan, bukan? Itulah kelak yang akan selalu membebaniku. Itulah yang paling tidak dapat kumaafkan dalam hidupku, meski untuk diriku sendiri. Itulah yang paling mustahil untuk kulupakan, meski dalam mimpi sekalipun.
Tapi semua itu kulakukan demi harapan sepotong nurani, Ry. Demi senuah jiwa yang telah lama terpaut. Demi sebait keakraban yang telah lama terjalin. Ya, demi alas an yang sangat klasik; sebuah persahabatan. Sesuatu yang sangat mustail untuk kulakukan ; mencipta keretakan, sementara aku menari dalam derail keindahan. Tidak, Ry, tidak! Aku tak kuasa melakukan semua itu. Biarlah aku memilih menjadi pecundang dalam kemunafikan daripada harus mengorbankan kebersamaan.
Yah…, akulah yang harus merelakan segalanya. Dan lagi-lagi, akulah yang harus menangis dalam luka. Karena aku yakin, apa yang telah Tuhan tulis dalam hidupku, barangkali itulah yang terbaik, meski bukan untukku, tapi untuk mereka. Ya, merekalah yang harus bahagia, bukan aku. Hanya yang membuatku kecewa, kenapa harus ada cinta yang tercipta jika semuanya hanya luka sia-sia. Ry, hanya satu yang kupinta darimu. Aku hanya ingin kau berdoa untukku, Ry. Doakan, agar aku mampu memaafkan diriku. Memaafkan kebisuan jiwaku ….
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Sajak Rindu
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening
Dan tenggelam dalam kerik jengkerik di beranda
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Mencari Diri Pada Sepotong Hatimu
Dulu, saya sering berfikir bahwa menjadi orang yang benar-benar jadi orang teramat mudah. Hari berganti hari, sementara apa yang kucari tak kunjung hadir. Lantas, ada semacam skeptisisme yang tiba-tiba menggelayut pedih paa liang-liang diri. Ah, saya lagi-lagi berfikir, bahwa sebenarnya kita tidak pernah benar-benar mencari-cari.
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Antara Cinta dan Dusta
Seberapa validkah kita mampu mengukur antara kesetiaan cinta dan logika dusta? Dalam bahasa yang lebih sederhana, bisakah kita mencintai seseorang sekaligus medustainya dalam waktu yang bersamaan?
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Maka Nikmatilah Karena Inipun Akan Berlalu
Saat di depanmu terhidang nasi sayur tahu tempe, mengapa mesti sibuk berandai-andai dapat makan ikan, daging atau ayam ala resto? Padahal kalau saja kau nikmati apa yang ada tanpa berkesah, pastilah rasanya tak jauh beda. Karena enak atau tidaknya makanan lebih tergantung kepada rasa lapar dan mau tidaknya kita menerima apa yang ada. Maka nikmatilah, karena jika engkau terus mengharap makanan yang lebih enak, makanan yang ada di depanmu akan basi, padahal belum tentu besok engkau akan mendapatkan yang lebih baik daripada hari ini.
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Sekuntum Doa Untuk Bunda
Bunda...
Tak ada yang patut diawali dalam rislah sunyi ini kecuali untaian kata maaf, karena barangkali anakmu yang durhaka ini terlambat menyuguhkan ucapan selamat. Meski hanya ucapan, semoga saja menjadi kenyataan, bukan hanya kepura-puraan, apalagi sekedar seremonial yang dipaksakan. Itu yang ku inginkan.
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Pertemuan Hujan
Kuceritakan kembali kisahmu, tentang peretemuan hujan yang memunguti sisa resahmu tadi malam. Harusnya tak ada kebimbangan, meski gerimis selalu, dan akan selalu merindukan pertemuan. Dan entah sampai kapan kau akan terus berjalan sendirian, mengemasi getar-getar hujan yang tak kunjung usai.
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Membaca Puisimu
Kudapati degup puisimu pada derap sunyi, saat dengan mata nanar kupandangi getir hujan yang memanggil-manggil gigil doaku di ujung malam. rinduku barangkali hanyalah isyarat imaji yang mengaliri selokan-selokan di pinggir jalan
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Berpayung Daun Pisang
Maka tak ada yang menungguku
Selain molody keheningan
Sehabis lelah menualangi buana
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Gerimis Senja Diwajahmu
Hanya rinai gerimis
Yang bisa merekahkaj senja
Agar lembayung merah di mataku
Menjelma biru rindu
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Orkestra Kebusian
Wahai lihatlah …
Engkau yang masih ragu menagkap isyarat angin
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Keluh Gerimis
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Alas Buluh Dini Hari
Bersama gigil angin pantai dan secangkir kopi hangat;
jejatuhan kapuk-kapuk itu berjelaga di rerkah fajar
meinggalkan helai resah pada dedebu jalanan
merangkai anatomi setapak jalan sunyi
yang mengucur deras dari lebam kening matahari
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak
Sebatang Cemara Kering
Sebelum dirimu menjelma sebatang cemara kering, ku lihat di jantungmu mengalir gemericik air sungai, mengibarkan pijar-pijar musim pada bebutir kerikil yang bertebaran di padang dingin. kau pun menunggangi kuda perang yang memercikkan bola api dari pukulan kuku kakinya, demi menziarahi sunyi ngarai yang demikian curam.
Yang ada Bekeng acixtaomi 0 komentar
Label: Sajak








